Jembatan Lewamori Gagal, Jakarta Gagalkan Skenario Petahana 2 Periode

Ashar S Yaman
*Sekretaris DPC Satria Kab.Bima

BIMA,Kabaroposisi--Pernyataan Kepada Dinas PU PERA Kab.Bima  di beberapa media soal gagal atau ditundanya proyek pembangun jembatan lewamori dibeberapa media, itu sinyal Jakarta sudah tidak menginginkan IDP 2 Periode. cukup beralasan karena Jembatan Lewamori adalah jualan politik petahana kepada rakyat 6 kecamatan, Bolo,madapangga, Donggo, soromandi, sanggar Tambora dengan sebaran pemilih berdasarkan DPT 99.000, pasar politik begitu besar  30 % total pemilih Kab.Bima, proyek jembatan lewamori andai Jakarta setujui adalah alat jualan politik petahana untuk menggarap pemilih di enam kecamatan itu secara maksimal, tentu dengan propaganda ekonomi, pertumbuhan dan serapan tenaga kerja, dan kemiskinan, Jakarta kandaskan mimpi petahana untuk mendulang suara di daerah pemilihan yang signifikan.

Jika kita komparasikan dengan Pilkada 2010, Jakarta menyetejui pembangunan RSUD sondosia tahun 2009 dan memberi sinyal kuat kepada publik, Bahwa Dae Fery didukung penuh Jakarta diperiode Ke-2, praktis RSUD sondosia menjadi alat jualan politik Dae Fery, dapil 1 (dapil belum dimekarkan) menjadi basis Dulangan besar Dae Fery untuk menang diperiode ke-2.


secara marketing politik, IDP akan kesulitan menggarap Bima Barat karena tidak lagi punya isu strategis untuk mempengaruhi pemilih, apapun logikanya Bima 2 dan 3 (Bima barat) adalah penentu kemenangan,30% pemilih dengan tingkat presepsi politik yang seragam, secara pemasaran politik adalah segmen pasar politik yang besar, perlu strategi dan manajemen isu, harus ada kerja besar tidak cukup, hanya lipservice dan senyum manis, secara umum rakyat tidak butuh itu, tetapi apa manfaat bagi mereka memilih calon pemimpin daerah.

Wilayah Bima barat sangat seksi Dimata calon pemimpin daerah, market share politik yang luas , segmen politik yang besar, tetapi untuk menggarap pasar politik sebesar ini, petahana harus menawarkan kerja politik besar, bukan sekedar janji kemakmuran, karena mempertahankan kekuasaan jauh lebih sulit dari merebutnya, gagalnya jembatan lewamori semakin mempersulit IDP untuk mendulang suara didaerah pemilih yang mengantarkannya menjadi Bupati periode sebelumnya.

Gagalnya jembatan lewamori, setidaknya menyibukkan petahana dalam mencari dan menggali isu apa yang relefan dengan masarakat Bima barat, padahal Jembatan Lewamori digadang-gadang bisa mengalihkan perhatian publik, terhadap isu jagung dan garam, dengan gagalnya lewamori, Pemerintahan IDP hanya bisa memamerkan setumpuk kegagalan pemerintah daerah dalam mananjemen pembangunan di Bima barat, pertanyaan kritisnya  apa hal baru yang dilakukan IDP untuk Bima Barat, selama kepemimpinannya? mungkin yang paling radikal itu hanyalah penggusuran besar-besaran lahan pertanian untuk jembatan lewamori dan perluasan kampus vokasi Unram, sudah lahan digusur gagal dibangun pula, lalu apa pretasi IDP yang oleh pendukungnya digadang-gadang 2 periode?

Gagalnya jembatan lewamori dibangun 2019 bukan soal remeh Temeh, yang luput dari pembahasan publik, Petahana belum cukup punya majemen pengalihan isu, karena terbatasnya perangkat politik yang bekerja untuk itu, gagalnya jembatan lewamori itu petanda bahwa Petahana tidak diijinkan 2 periode, Bima barat punya bargaining politik yang seksi, punya posisi tawar, jika pemerintah tidak punya prestasi dalil apalagi yang bisa menjadi pembenaran untuk diberikan mandat 2 periode?

Rakyat sudah bosan dengan janji-janji kemakmuran, tetapi menunggu bukti kerja nyata Bupati yang sedang memerintah, karena dampak ekonomi jika jembatan lewamori dibangun sangat besar untuk kemakmuran masarakat Bima barat, kenapa bupati tidak mengganggap jembatan lewamori ini serius?

Mimpi 2 periode IDP, sudah tidak punya penjelasan logis untuk ditafsirkan rakyat menjadi kenyataan, selain IDP berpotensi kehilangan basis Dulangan besar, ia juga berhadapan dengan krisis legitimasi rakyat atas minimnya prestasi dalam membangun daerah.

isu apalagi yang bisa ditawarkan kepublik? saya menyoal Bima barat meski segmented tetapi sangat potensial untuk menentukan peluang politik petahana melanggeng 2 periode, setelah ini apa masih mungkin 2 periode? atau mungkin IDP masih percaya pada mistifikasi dan personafikasi dae fery masih bisa jadi jualan politik, ditengah masarakat yang sudah mengalami proses demistifikasi yang radikal, masih percayakah IDP pada "Bisa Ra Guna" sebagai propaganda politik ditengah masarakat rasional dengan tingkat kelas terdidik yang naik pesat dalam 10 tahun terahir? Masih percayakah IDP pada romantisme sejararah "kembali Mbojo mantoi" ditengah masarakat yang telah mengalami pembaruan pemikiran dan transaksi informasi yang cepat? tidaklah IDP membaca data politik bahwa trend dukungan terhadap klan istana menurun setiap pemilu kada? Kesombongan 2 periode selain gagap untuk diucapkan juga gagap untuk diterjemahkan dilapangan, karena yang ditunggu publik apa prestasi IDP selama menjadi Bupati, apa terobosan IDP dalam membangun daerah?
(opini)

No comments

Powered by Blogger.