MENJELANG PILKADES, HINDARI POLITIK UANG DAN JANGAN PERCAYA PADA SUARA DUKUN

Penulis : Syarifudin, M. Pd
Alumni Mahasiswa Pascasarajana Universitas Negeri Mataram (UNRAM).
Bima,Kabaroposisi--Politik gaya Desa segera dimulai di Kabupaten Bima, ada 82 Desa akan melakukan pemilihan serentak pada tanggal 16 Desember 2019, jika ingin mengetahui bagaimana proses demokrasi Pilkades berjalan di Kabupaten Bima, maka perhatikanlah pada ajang pemilihan kepala desa, sebab pesta demokrasi ditingkat desa merupakan gambaran jelas terhadap proses demokrasi yang berjalan saat ini, apakah msyarakat lebih banyak memilih pemimpinnya berdasarkan kemampuan atau cuman berdasarkan alasan personal seperti ketokohan dan hubungan kekeluargaan. 

Pesta demokrasi dalam pilkades tinggal menghitung hari, masa kampanye telah usai, minggu tenang bukan berati membuat masa simpatisan tiap calon saling tenangkan diri, justru simpatisan tiap calon melakukan trik politik mereka dengan menulis berbagai isu politik di media sosial. Ada yang menulis mengangkat calon yang mereka dukung dengan narasi bahasa yang bisa menarik simpatisan dari orang lain, ada juga yang mengekspor foto dengan jumlah uang yang banyak untuk persiapan menjelang pencoblosan dan sekaligus persiapan serangan fajar.


Pilkades merupakan bagian dari proses kegiatan politik untuk memperkuat partisipasi masyarakat. Sehingga diharapkan akan terjadi perubahan yang signifikan di tingkat pedesaan. Dengan adanya pilkades di harapkan masyarakat dapat terlatih untuk peduli kepada pemimpinnya, serta sadar terhadap apa, siapa, dan bagaimana pemimpin yang akan di pilih nanti.

Demokrasi menggunakan asas suara terbanyak, meski yang terbanyak bukan yang terbaik, sehingga ini memunculkan fenomena jual beli suara  untuk bisa menang dalam Pilkades, kalau sudah begini tentu yang terpilih kebanyakan adalah orang yang memiliki kemampuan keuangan yang lebih baik, bukan kemampuan dalam hal pengelolaan dan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab.

Saya yakin kesejahtraan masyarakat akan tercapai jika memilih kepala desa berdasarkan hati nurani dan bukan dipilih atas dasar jual beli suara, jika kepala desa yang terpilih berdasarkan jual beli suara dan tidak kompeten maka jangan menyalahkan pemerintah kalau fasilitas umum di desa rusak, kalau tidak ada pembinaan, kalau tidak ada pemberdayaan, sebab masyarakat sendirilah yang memilihnya jadi salahkanlah diri sendiri, jangan melempar kesalahan pada pemerintah yang telah dipilih berdasarkan suara yang terbanyak. 

Pilkades tahun ini bukan menguji mana yang terbaik dan mana yang memiliki banyak uang,  tetapi yang dilihat adalah kemampuan mereka dalam menempatkan diri didalam kehidupan sosial dan konsep seperti apa yang dimiliki oleh calon kepala desa dalam membangun desa dan bagaimana manajemen pengelolaan keuangan ADDnya. 

Fakta dalam pilkades bahwa, hal mistisisme  masih di pake sebagai tujuan mereka akan percaya bahwa calon yang didukung akan menang dan akan mendapatkan suara yang terbanyak. Hal mistisisme yang dimaksud penulis adalah masih percaya pada dukung, simpatisan pergi ke orang pintar atau dukung dengan meminta saran dari dukung tersebut dengan menyebut semua nama-nama calon kadesnya, dukung akan bertanya lebih awal, siapa nama calon kades yang kalian dukung, dukun akan menjawab dengan bahasa yang bisa meyakinkan orang, karena merasa suaranya akan dibayar mahal. 

Problem seperti ini yang semestinya dihindari, karena sudah menodai pesta demokrasi, masyarakat lebih percaya pada suara dukung, kalau sudah mempercayai suara dukung, simpatisan atau tim kadesnya akan menerapkan konsep propaganda dengan menyebarkan isu-isu kemenangan calon kadesnya. Sehingga akan terjadi perdebatan panjang, yang menang dan yang kalah, yang baik dan yang tidak baik. Jika konsep politik propaganda diterapkan, maka kehidupan  bermasyarakat akan pecah, akan saling nyidir, saling fitnah, saling mencaci maki antara calon maupun simpatisan.  

Masyarakat harus bisa menilai dan profesional dalam memberikan suaranya, karena kemenangan calon kepala desa ditentukan oleh masyarakat sendiri. Perhatikan baik-baik dan pahami tujuan berpolitik seperti apa, karena hemat saya sebagai penulis bahwa pilkades tahun ini jangan sampai ada yang saling memanfaatkan. 

Waspadalah politik uang dan  serangan fajar. Berbicara tentang pilkades memang selalu dikaitkan dengan adanya politik uang. Entah benar atau tidaknya, memang perlu ada edukasi kepada masyarakat untuk bisa menolak segala bentuk politik uang. Alasannya, pemimpin yang baik tidak akan pernah terlahir di tangan para pemilih yang permisif terhadap politik uang.


Selain itu, masyarakat juga bisa turut aktif dalam melakukan pengawasan secara bersama-sama guna menutup celah bagi bakal calon melakukan politik uang jelang pemilihan kepala desa di desanya. Mengingat politik uang adalah sebuah kejahatan serius dalam demokrasi yang harus diperangi oleh seleuruh elemen masyarakat. 

Tidak hanya isu politik uang, kedewasaan calon kepala desa dan pendukungnya juga perlu disiapkan untuk menerima kekalahan dan kemenangan dalam pesta demokrasi tersebut. Sementara itu, pemangku kebijakan perlu terus memantau kondisi di lapangan baik pra maupun pasca-pilkades dan berikan pemahaman pendidikan berpolitik pada masyarakat, agar masyarakat bisa memahami tujuan berpolitik dengan baik.

Kepala desa yang nanti ditetapkan sebagai pemenang bisa merangkul pihak yang kalah. Sedangkan bagi pihak yang kalah harus siap menerima dengan ikhlas kekalahannya, sebab tujuan pilkades cuma satu, yakni membangun desa bersama masyarakat.(***)

1 comment:

  1. Semoga bimaku selalu aman Dan masyarakatx hidup damain Dan bisa maju .
    Terutama di kab .Bima desa bolo tempat kelahiran.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.